Jumat, 05 April 2013

CCT Diagram






Gambar diagram CCT baja karbon eutectoid diturunkan dari diagram IT.

Sebenarnya memplot kurva pendinginan pada diagram IT tidak tepat karena transformasi yang digambarkan dengan diagram IT adalah transformasi pada temperature konstan, sedangkan pendinginan yang dialami suatu benda pada proses laku panas biasanya pendinginan yang kontinyu. Letak kurva transformasi akan bergeser bila transformasi berlangsung pada temperatur yang menurun. Karena itu perlu dibuat suatu diagram transformasi pada pendingian kontinyu.

Diagram transformasi semacam ini dinamakan diagram transformasi pendinginan kontinyu atau diagram CCT (Continuous Cooling Transformation). Bentuknya agak berbeda dibandingkan dengan diagram IT, lihat gambar di atas. kurva transformasi tergeser sedikit ke kanan bawah, dan pada baja karbon tidak terdapat daerah transformasi austenitbainit. Ini disebabkan karana kurva awal transformasi austenit-bainit terhalang oleh kurva transformasi austenit-perlit.

Tetapi dari gambar di atas yang menggambarkan kurva transformasi pendinginan kontinyu (garis tebal) yang disuperimpose pada diagram IT (garis tipis) baja karbon eutectoid, tampak bahwa dengan pendinginan kontinyu lebih mudah diperoleh martensit, karena kurva transformasi ber-geser ke kanan. Misalnya pada kurva pendinginan dengan laju 250 oF/s, untuk kurva transformasi pendinginan kontinyu akan merupakan laju pendinginan kritis, akan menghasilkan 100%, tetapi pada kurva transformasi isothermal masih akan menghasilkan sedikit perlit sebelum menjadi martensit.

        Pada proses laku panas biasanya pendinginan dilakukan dengan pendinginankontinyu, sehingga biasanya diagram CCT lebih banyak digunakan. Sedangkan diagram IT digunakan untuk proses laku panas tertentu yang dilakukan dengan pendingina isothermal.

Rabu, 03 April 2013

Manusia Hebat



Manusia hebat bukan harus mempunyai kekuatan super seperti superman, batman, ataupun gatot kaca. Apakah tokoh-tokoh tersebut ada di kehidupan nyata? Tentu saja jawabanya Tidak!. Manusia hebat yang akan kami bahas tentu bukan seseoran yang punya kekuatan super, tapi beliau hanyalah orang biasa seperti kita. Yang berbeda adalah kecintaan beliau terhadap Tuhan dan umat nya.
Siapa yang tidak akan terharu dengan seorang anak kecil (yatim piatu) yang sudah dapat mencari uang sendiri? Siapa yang akan meningglakan orang yang enak untuk diajak bicara, bercanda? Siapa yang akan kesengsem melihat wajah tampanya setengah dunia? Siapa yang tidak akan betah hidup di Negara yang pemimpinya tidak pernah menaikan pajak, bahkan sering memberikan bonus (yang dijamin halal dan bebas korupsi), murah senyum dengan siapapun, perhatian (bahkan di saat beliau sakit pun selau ingat dengan rakyatnya), Siapa lagi yang akan menolak kalau menjadi orang yang selalu dirindukan dan akan sangat menolong saat ada di samping kita? Apakah ada manusia seperti itu?
Siapakah manusia hebat itu? Sedikit biografi dari beliau.:
TTL                             :Mekkah, 12 Rabi’ul awwal 571M
Ayah                            :Abdullah bin Abdul Muthalib
Ibu                               :Siti Aminah
Nama Lengkap            :Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Qusai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib bin Fihr.
Riwayat
Ya tiada lain dan tiada bukan sosok manusia hebat yang pernah hidup di dunia ini hanyalah Rasulullah Muhammad saw. Sejak di dalam kandungan beliau sudah tidak memiliki ayah, di usia enam tahun kehilangan ibunda tercintanya. Setelah itu Muhammad kecil tinggal bersama kakeknya Abdul Muthalib yang pada saat itu umurrya sudah hampir 90 tahun. Nabi saw teru tinggal bersama kakeknya siang dan malam hingga berumur 8 tahun. Akhirnya nabi saw mengecap kepahitan untuk yang ketiga kalinya setelah kakeknya meninggal. Selanjutnyan yang mengasuh Nabi saw adalah pamannya Abu Thalib.
Saat itu pula lah beliau mulai mencari nafkah sendiri dengan menjadi penggembala kambing. Inilah pekerjaan para Nabi sebelumnya. Dari situlah mereka belajar kesabaran, ketegaran dan menanggung kesusahan. Setelah umurnya 15 tahun beliau menawarkan kepada pamanya untuk berdagang. Inilah pekerjaan yang mengajarkan manusia mengenal watak dan akhlak orang lain. Dari berdagang inilah yang akhirnya membentuk karakter Nabi saw. Kemudian jiwa entrepreneur-nya semakin nyata, yaitu saat menjadi karyawannya Siti Khadijah, wanita shalihah dan terhormat yang kemudian menjadi istri pertamanya.
Pada usia 25 tahun akhirnya beliau menikah dengan Siti Khadijah. Pada masa itu, Siti Khadiajh bukanlah perempuan sembarangan tapi adalah seorang yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakatnya dan diberi gelar ath-Thahirah (yang suci). Dia seorang yang sukses dalam mengurus usaha perdagangan yang besar. Pernikahan tersebut berjalan selama lima belas tahun dan membuahkan empat orang anak perempuan dan dua orang anak lelaki.
Pada usia empat puluh tahun, Nabi saw menerima wahyu pertamanya. Ayat yang pertama kali turun adalah Iqra’. Ini menunjukan betapa pentingnya menuntut ilmu dan merupakan sebuah kewajiban. Dia yang tidak bias membaca dan menulis akan mnjadi petunjuk bagi semwsta alam untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pada 27 Rajab tahun kesepuluh dari kenabian, datanglah Jibril menemui Nabi saw yang berada di rumahnya. Jibril berkata, “Thawaflah di Ka’bah sebanyak tujuh kali.” Kemudian Jibril menagabarkan bahwa Rasulullah akan dibawanya pergi ke masjid al-Aqsha untuk selanjutnya dinaikan menuju langit. Perjalanan ini disebut dengan Isra’-Mi’raj, yang mana dalam perjalanan Isra’-Mi’raj ini Rasulullah menerima perintah sholat lima waktu.
Pada tahun ke sepuluh hijriyah, ketika Rasulullah mencapai usia 63 tahun, terjadi peristiwa haji Wada’. Dinamakan haji Wada’, karena pada waktu itu Rasulullah menyampaikan perpisahanya kepada seluruh kaum muslimin dan seluruh umat manusia. Akhirnya pada suatu senin ketika matahari terbit rasulullah wafat. Rasulullah wafat dalam pangkuan ‘Aisyah. Dia sangat berharap bahwa dia akan meninggal dalam keadaan sholat, berjihad, atau membaca al-Qur’an.
Perlu diketahui Rasulullah dilahirkan pada saat matahari terbit. Ini menunjukan bahwa kelahirnya merupakan awal risalah. Risalah untuk seluruh umat manusia. Dia meninggal saat matahari terbit. Ini menunjukan bahwa risalahnya masih senantiasa abadi.
Teori Manusia Hebat
            Menjadi manusia hebat, dalam pengertian sukses di dunia dan akhirat, sebenarnya konsepnya sangat sederhana, yaitu dengan melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Buktinya apa bisa sukses di dunia dan akhirat?. Yang pertama adalah kejujuran. Sifat jujur inilah yang membawa Nabi saw menjadi seorang entrepreneur sejati. Jaringan perdagangnya sam ke Negeri Syam (sekarang Syiria). Relasinya jangan diragukan lagi. Pedagang manapun tidak ada yang tidak mengenal Rasul. Business link yang begitu luas dan bagusnya itu beliau sudah dapatkan dalam usia kurang dari dua puluh tahun. Rahasia di balik suksesnya itu hanya satu yaitu JUJUR. Jujur dengan Allah, pembeli, majikan. Barang sebesar atom pun tidak pernah beliau korupsikan. Kejujuran akan membawa kita kepada kebaikan.
            Yang kedua adalah adil dan bijaksana. Dalam suatu riwayat terjadi perselisihan diantara kabilah dalam hal memindahkan hajar aswad. Lalu dengan adil Rasulullah membentangkan sebuah selendang, kemudian hajar Aswad diletakan di atasnya. Lalu setiap kabilah memegang ujung selendangnya dan kemudian Hajar Aswad pun bisa dikembalikan pada tempatnya yang semula. Dengan sifat adilnya ini rasulullah dapat menyelesaikan permasalahan yang hampir saja menimbulkan peperangan.
            Yang ketiga adalah menjadi penyabar. Siapa lagi yang lebih penyabar dari para Nabi dan Rasul Allah? Jawabanya TIDAK ADA. Dalam suatu riwayat Rasulullah melakukan perjalanan ke Thaif  bersama Zaid bin Haritsah. Beliau mengadakan perjalanan itu untuk menawarkan penduduk setempat agama Islam. Namun apabalsan yang diterima oleh Rasul danshabatnya, mereka malah dilempari batu dan keduanya berdarah. Para malaikat kemudian menawarkan kepada Rasulullah denagan berkata” jika enkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung (ini),:” Namun Nabi menjawab, “Janagan. Siapa tahu dari rahim mereka Allah akan mengeluarkan seseoran yang mengucapkan (kalimat) Tiada Tuhan selain Allah. Begitu sabarnya beliau, bahkan disaat  keritis pun beliau tetap mendoakan kebaikan kepada musuhnya yang menyakiti beliau.
            Yang keempat selalu bersyukur. Rasulullah senantiasa bersukur dan memanjatkan pujian (zikir) sehabis makan, minum, memakai pakaian, ketika bangun tidur dan kembali dari berpergian. Untuk itulah sudah seharusnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT, atas apa yang telah dianugerahkannya. Apabila kita bersyukur, maka akan dicukupkan segala urusannya.
            Yang kelima adalah pemaaf. Tidak ada orang lain yang se-pemaaf Rasulullah di dunia ini. Betapa tidak, beliau disakiti, dihina, dicaci, dan dimaki, Rasul tidak pernah menaruh dendam ataupun marah. Tapi dengan sifat pemaaf nya malah memohonkan ampunan dan rahmat-Nya. Mungkin kalau kita dicaci, kita akan balas juga dengan cacian, keburukan dibalas juga dengan keburukan.
            Mari kita sejenak renungkan apakah kita sudah memiliki salah satu sifat di atas? Dalam surat At-Taubah 128 Allah berfirman ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Selasa, 02 April 2013

Memahami Arti Kehilangan

Ada seorang perempuan yang merasa sangat kehilangan saat ditinggal mati suami yang sangat dicintainya.

Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia memutuskan untuk mengawetkan mayat suaminya dan meletakkannya di dalam kamar.

Setiap hari, dia menangisi suaminya yang telah menemaninya bertahun-tahun. Wanita itu merasa dengan kematian suaminya, maka tidak ada lagi makna dari hidup yang dijalaninya.

Cerita tentang wanita itu terdengar oleh seorang pria bijak yang juga terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Didatanginya wanita tersebut, dan dia mengatakan bisa menghidupkan kembali suaminya. Dengan syarat dia meminta disediakan beberapa bumbu dapur yang mana hampir setiap rumah memilikinya.

Namun, ada syarat lain, bumbu dapur tersebut harus diminta dari rumah yang anggota keluarganya belum pernah ada yang meninggal dunia sama sekali.

Mendengar hal itu, muncul semangat di hati sang wanita tersebut. Dia berkeliling ke semua tetangga dan berbagai penjuru tempat. Setiap rumah memiliki bumbu dapur yang diminta oleh si orang bijak, tapi setiap rumah mengaku pernah mengalami musibah ditinggal mati oleh kerabatnya. Entah itu orang tua, suami, nenek, kakek, adik, bahkan ada yang anaknya sudah meninggal.

Waktu berjalan dan tidak ada satu pun rumah yang didatanginya bisa memenuhi syarat yang dibutuhkan.

Hal ini menjadikan wanita tersebut sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang ditinggal mati oleh orang yang disayanginya.

Akhirnya, dia kembali mendatangi si orang bijak dan menyatakan pasrah akan kematian suaminya. Hingga kemudian dia menguburkan mayat suaminya, dan menyadari bahwa semua orang pasti pernah mengalami masalah sebagaimana yang dihadapinya.
Pesan dari kisah di atas adalah, jangan pernah menganggap bahwa masalah yang ada pada kita merupakan masalah yang paling besar, sehingga kita mengorbankan waktu hanya untuk terus meratapi musibah tersebut.

Yakinlah, bahwa semua orang di dunia ini pernah mengalami musibah, apapun bentuknya. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menghadapi dan menyikapi masalah yang ada pada dirinya.

Sumber : "Dunia Training"

Bersyukur Setiap Saat atas Segala Hal

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si supir menjawab, "Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai" Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"

Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan."

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.

Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu." Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga."



Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=424771624230699&set=a.310354615672401.70827.296735643700965&type=3&theater  "Dunia Training"

Juara Satu ??

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?


Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=426783120696216&set=a.310354615672401.70827.296735643700965&type=3&theater  "Dunia Training"

Kayu Ajaib

Pada Zaman Bani Israel, ada seorang lelaki shalih yang hendak berdagang. Akan tetapi, dia tidak mempunyai modal. Akhirnya, lelaki itu meminjam uang kepada seorang saudagar yang dikenal pemurah. Dia meminta pinjaman sebesar seribu dinar.

Karena jumlahnya sangat banyak, saudagar yang dipinjami uang itu berkata,”Kau akan aku pinjami uang, tetapi carilah orang yang akan menjadi penjaminmu. Jika kau tidak bisa membayar, orang itu yang akan membayarnya!”
Lelaki shalih itu menjawab,“Cukuplah Allah sebagai penjaminku. Allah Makakaya dan Mahakuasa!”

Saudagar itu lalu menukas,”Kalau begitu, carilah saksi. Agar jika terjadi apa-apa dia bisa menjadi saksi yang adil.”

Lelaki shalih itu menjawab.“Cukuplah Allah sebagai saksiku. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.”

“Kau Benar.”

Lalu, saudagar itu meminjamkan uang seribu dinar setelah membuat kesepakatan bahwa tiga bulan kemudian uang itu harus sudah di kembalikan, karena uang itu akan digunakan.

*****

Lalu, lelaki shalih itu membelanjakan uang seribu dinar itu untuk membeli barang-barang dagangan. Dia hendak berdagang ke negeri seberang dengan menggunakan kapal. setelah berlayar berhari-hari, kapal itu sampai di negeri seberang dengan selamat. Dia disana, dia memulai berdagang di sebuah pasar, dekat dermaga. Dalam waktu satu bulan, dagangannya telah habis. Dia mendapatkan keuntungan besar, yaitu tiga kali lipat dari modalnya.

Setelah berkemas, dia mencari kapal ke dermaga. Namun, dia tidak menemukan kapal yang berlayar ke negerinya. Kemudian, dia teringat pada janjinya yang akan mengembalikan uang itu pada awal bulan. Waktunya tinggal empat hari. Sedangkan untuk sampai ke negerinya, dia memerlukan waktu empat hari. Dia bingung, seharusnya, hari itu dia sudah mulai berlayar.

Lalu, dia terus berjalan sepanjang pantai untuk mencari nelayan yang bisa mengantarkan pulang ke negerinya. Akan tetapi, dia tidak menemukannya. Dia menangis dan bingung. Dia tidak ingin mengkhianati janjinya.

Akhirnya, dalam kesedihannya, dia melihat septong kayu terapung di pinggir pantai. Dia mengambil kayu itu dan membawanya ke penginapannya.

Dia lalu pergi ke pasar untuk membeli alat pelubang kayu. Kayu itu dia lubanginya. setelah itu di menulis surat,
Saudarakau, aku tulis surat ini empat hari sebelum hari jatuh tempo pembayaran uang yang aku pinjam seperti yang telah kita sepakati dulu.
Aku tidak tahu apakah surat ini sampai kepadamu atau tidak. aku sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada Allah yang menjadi penjaminku.
Saat ini, sebenarnya aku ingin berlayar pulang untuk mengantarkan uang ini. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena tidak ada kapal yang berlayar. Kapal yang akan berlayar ke negeri kita adanya satu bulan lagi. Ini seribu dinar aku titipkan kepada Allah untuk disampaikan kepadamu melalui kayu ini.

Wassalam,
Sahabatmu.

Lalu, dia memasukkan surat itu bersama uang seribu dinar. Surat dan uang itu, dia bungkusnya dengan kantong yang tidak tembus air. Setelah itu, dia menggergaji kayu untuk menyumpal lubang itu. Kemudian, dia memakunya kuat-kuat.

Setelah semuanya selesai, di pergi ke pantai untuk menghanyutkan kayu itu, seraya berdoa,”Ya Allah, Engkau tahu kalau aku meminjam uang seribu dinar kepada Fulan. Di bertanya padaku orang yang bisa menjadi jaminanku, dan aku menjawabnya. ‘Cukup Allahlah yang menjadi penjaminku. ‘Lalu, dia meminta saksi aku katakan,‘Cukup Allahlah yang menjadi saksiku.’ Dia pun ridha kau sebagai penjamin dan saksiku. Dia telah meminjamiku seribu dinar untuk dikembalikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang guna membayarkan hutang ini, tetapi tidak bisa karena tak ada kapal. Sekarang, aku titipkan uang seribu dinar ini kepada-Mu untuk Kau sampaikan kepadanya, tepat pada waktunya. Engkaulah Tuhan yang Mahakuasa. Amin”

Lalu, dia menghanyutkan kayu itu ke laut. Dia hanya berdiri diam di tepi pantai, sampai kayu itu hilang ditelan ombak di tengah laut.

Pada hari yang telah dinantikan, saudgar yang memberi pinjaman itu, menanti di dermaga. Dia menanti datangnya kapal yang membawa orang yang telah dia pinjami uang seribu dinar. Dia ingin mengambil uangnya karena ada keperluan.

Biasanya, kapal itu datang pagi hari. Namun, pagi itu tidak ada kapal yang datang.Dia menunggu sampai sore. Namun, tidak ada juga kapal yang datang. Dia pun pasrah jika seandainya uang itu tidak kembali, dia niatkan sebagi sedekah.

Sebelum pulang, dia melihat ada kayu terapung diterjang ombak di pantai. Daripada pulang tidak membawa hasil, dia memungut gelondongan kayu itu. “Lumayan, bisa untuk kayu bakar di rumah,” pikirnya. Dia pun membawa kayu itu kerumah.

Sampai di rumah, dia meletakkan kayu itu di dapur. Melihat kayu gelondongan itu, istrinya berkata,”Sebaiknya di pecah-pecah sekalian. Biar cepat kering dan besok bisa di gunakan memasak.”

Lalu saudagar itu mengambil sebuah kapak dan memecah kayu itu. Begitu kayu itu pecah, dia tercengang melihat kantong yang ada di dalamnya. Dia memungut kantong itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata, kantong itu berisi uang sebanyak seribu dinar dan selembar surat.

Dia membaca surat itu dengan seksama. Dia terharu dan takjub. Seketika, dia menangis dan bersujud kepada Allah. Dia merasa, betapa maha kuasanya Allah. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-hamba-Nya yang bertawakal dan percaya sepenuh hati kepada-Nya. Surat itu datang dari saudaranya. Dia pun berdoa semoga saudaranya yang masih tertinggal di negeri seberang sehat wal afi’at dan mendapat rezeki yang lancar.

Satu bulan kemudian, lelaki shalih itu pun datang dan langsung menuju rumah saudagar itu guna mengembalikan uang yang telah ia pinjam. Pertama-tama dia meminta maaf kalau kedatangannya telat dan berarti telat pula bayar hutang kepadanya. Lalu dia menyodorkan uang seribu dinar kepada saudagar itu.

Saudagar itu berkata,”Bukankah kau telah membayarnya?”

“Kapan?”

“Bukankah kau telah menitipkannya lewat sepotong kayu glondongan itu?”

Lalu saudagar itu menceritakan perihal kayu itu yang dia temukan; yang di dalamnya ada uang seribu dinar dan surat.

Mendengar ceritanya, lelaki shalih itu seketika bertasbih, “Subhanallah, Mahasuci Allah!”
 



Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=430203180354210&set=a.310354615672401.70827.296735643700965&type=3&theater "Dunia Training"

Minggu, 22 Juli 2012

Karena Engkau Ciptaan Terbaik dari Sang Maha Sempurna

Sahabat, pernahkah engkau melihat saudara saudara kita yang diberikan ujian berupa cacat fisik? jika engkau pernah melihat mereka, apa yang ada dipikiranmu tentang diri mereka? "kasihan", "hanya orang tidak berguna yang selalu menyusahkan", atau malah engkau tidak berpikir apa apa tentang mereka. Seandainya engkau tahu bahwa setiap kejadian pasti memiliki hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan kita, maka pasti engkau akan berpikir tentang banyak hal, termasuk tentang ujian yang dialami saudara saudara kita. Sahabat, mari kita pikirkan sejenak tentang ujian cacat fisik yang dialami saudara saudara kita. Apakah banyak diantara mereka yang putus asa? jika engkau menjawab banyak, coba pikirkan lagi!, bukankan kita sering melihat saudara saudara kita ini malah sedang bekerja keras, ada yang tuna netra, bepergian seorang diri dan masih banyak lagi contoh lainnya. Mereka, engkau, kita semua adalah ciptaan terbaik dari Sang maha Sempurna Allah SWT. Ia Allah, menciptakan kita semua dalam sebaik-baik bentuk, walaupun terkadang kita sering merasa minder dengan salah satu bagian tubuh yang tidak sesuai keinginan kita, tetapi Allah adalah Sang Maha Sempurna yang tidak akan mungkin akan salah ketika menciptakan makhluk Nya. semua yang ada pada diri kita sebenarnya memiliki potensi yang besar, mungkin haya kita yang tidak mengetahuinya. Mungkin ada kekurangan pada diri kita menurut kita, tetapi kekurangan itu justru berpotensi untuk memecut semangat untuk jadi yang terbaik dengan adanya kekurangan. hal itu mengingatkan saya dengan kutipan yang luar biasa "Perbedaan antara batu yang dapat dijadikan sebagai pijakan dan yang dapat menjatuhkan adalah tentang bagaimana cara menggunakannya" , sahabat, marilah kita gunakan segala masalah yang datang dalam kehidupan kita sebagai batu pijakan yang aka mengantarkan kita ketempat terbaik...